Realitas dunia publikasi ilmiah jauh lebih luas daripada sekadar database Scopus milik Elsevier tersebut, baik dosen yang mengejar angka kredit (KUM) maupun mahasiswa pascasarjana yang membutuhkan syarat kelulusan, atau peneliti independen yang ingin gagasannya disitasi. Memahami lanskap indeksasi jurnal selain Scopus adalah strategi krusial.
Memilih "rumah" yang tepat untuk naskah Anda bukan hanya soal gengsi, tetapi soal menjangkau pembaca yang tepat dan yang tak kalah penting adalah menghindari jebakan jurnal bodong.
Artikel ini akan mengupas tuntas berbagai indeks jurnal bereputasi lainnya yang wajib masuk radar Anda, serta bagaimana menghindari sisi gelap dunia publikasi.
Sebelum melangkah lebih jauh, kita perlu menyamakan persepsi. Indeks jurnal bukan sekadar daftar nama. Ia adalah bentuk kurasi kualitas. Sebuah lembaga pengindeks (seperti Scopus, WoS, atau SINTA) melakukan seleksi ketat terhadap jurnal berdasarkan keteraturan terbit, kualitas peer-review, diversitas penulis, hingga dampak sitasi.
Mengapa ini penting bagi mahasiswa dan peneliti?
Kredibilitas: Terindeks, berarti naskah Anda telah melewati standar ilmiah tertentu dan diakui komunitas.
Visibilitas: Indeksasi memudahkan peneliti lain menemukan karya Anda di lautan informasi digital.
Keamanan: Indeksasi bereputasi biasanya menyaring jurnal-jurnal yang tidak memenuhi standar etika.
Berikut adalah pemain-pemain kunci dalam dunia indeksasi selain Scopus yang harus Anda ketahui:
Web of Science (WoS) yang dikelola oleh Clarivate Analytics
Jika ada yang bisa disebut "kakak" atau setidaknya rival seimbang bagi Scopus, itu adalah Web of Science (WoS) yang dikelola oleh Clarivate Analytics.
Dulunya dikenal sebagai Thomson Reuters, WoS sering kali dianggap memiliki standar seleksi yang lebih ketat dan eksklusif dibandingkan Scopus.
Bagi peneliti serius, menembus jurnal yang terindeks dalam Science Citation Index (SCI) atau Social Science Citation Index (SSCI) di bawah payung WoS adalah prestise tertinggi. Banyak hibah penelitian internasional dan kolaborasi universitas kelas dunia justru lebih melihat matrik dari WoS. Jika naskah Anda memiliki novelty (kebaruan) yang sangat kuat dan metodologi yang sangat rigorous, jangan ragu untuk menargetkan jurnal WoS. Ini bukan alternatif rendahan, melainkan alternatif elit.
SINTA (Science and Technology Index) yang dikelola oleh Kemendikbud Ristek
SINTA (Science and Technology Index) adalah wujud kedaulatan data publikasi Indonesia yang dikelola oleh Kemendikbud Ristek. Kesalahan terbesar mahasiswa dan dosen pemula adalah meremehkan SINTA dan langsung terobsesi pada jurnal internasional, padahal naskah mereka mungkin lebih relevan untuk konteks lokal.
SINTA memiliki hierarki yang jelas (SINTA 1 hingga 6):
SINTA 1 & 2: Ini adalah "kasta" tertinggi. Hampir semua jurnal SINTA 1 sudah terindeks Scopus atau WoS. Bagi mahasiswa S2/S3 yang diwajibkan publikasi, menembus SINTA 2 adalah pencapaian luar biasa yang sering kali setara dengan syarat kelulusan cum laude di beberapa kampus.
SINTA 3 & 4: Zona nyaman bagi dosen pemula dan mahasiswa. Kualitasnya terjaga, proses review berjalan baik. Namun, tingkat penolakannya tidak sebrutal SINTA 1/2. Ini tempat terbaik untuk membangun rekam jejak (track record).
SINTA 5 & 6: Sangat cocok untuk mahasiswa S1 yang belajar mempublikasikan skripsi mereka atau jurnal yang baru merintis akreditasi.
DOAJ hanya mengindeks jurnal yang Open Access
Bagi peneliti yang idealis dan ingin karyanya dibaca oleh siapa saja tanpa terhalang paywall (biaya langganan), DOAJ adalah destinasi utama. DOAJ hanya mengindeks jurnal yang Open Access dengan kualitas kontrol yang baik (memiliki peer-review dan dewan redaksi jelas).
Keunggulan utama DOAJ adalah potensi sitasi karena artikelnya gratis diunduh. Kemungkinan artikel Anda dibaca dan dikutip oleh peneliti lain di seluruh dunia menjadi jauh lebih besar dibandingkan jika terkurung di jurnal berbayar. Reputasi DOAJ di mata komunitas global sangat dihormati sebagai standar keterbukaan sains (Open Science).
Selain indeks umum, ada indeks yang spesifik pada bidang ilmu tertentu. Pengetahuan ini penting agar Anda tidak "salah kamar".
Microsoft Academic & Dimensions: Berfungsi sebagai mesin penemuan canggih(discovery engine) berbasis AI untuk memetakan hubungan antar-riset.
EBSCO & ProQuest: Agregator basis data perpustakaan global. Jurnal di sini memiliki distribusi yang sangat baik ke universitas-universitas dunia.
CABI: "Kitab suci" bagi peneliti pertanian, biologi, dan lingkungan. Masuk indeks CABI berarti riset Anda diakui oleh komunitas spesialis global.
Dalam semangat mencari alternatif publikasi, peneliti sering kali lengah dan terjebak dalam perangkap mematikan: Jurnal Predator. Ini adalah ancaman nyata yang tidak hanya menguras finansial, tetapi juga dapat membunuh karier akademik secara instan.
Apa Itu Jurnal Predator? Jurnal predator adalah entitas yang mengeksploitasi model Open Access demi keuntungan semata. Mereka memungut biaya publikasi (Article Processing Charge / APC) dari penulis. Namun, mengabaikan proses kontrol kualitas ilmiah seperti peer-review.
Prinsip mereka sederhana: "Anda bayar, kami terbitkan."
Bagi dosen, artikel di sini tidak diakui untuk kenaikan pangkat, dan bisa berujung pada daftar hitam (blacklist).
Tanda-Tanda Bahaya (Red Flags) Agar tidak tertipu, waspadai ciri-ciri berikut:
Jaminan Diterima (Guaranteed Acceptance): Tidak ada jurnal bereputasi yang menjamin naskah diterima sebelum di-review. Jika ada jaminan 100% accepted, itu penipuan.
Proses Kilat Tidak Masuk Akal: Sains butuh waktu. Tawaran "Terbit dalam 1 Minggu" adalah tanda bahaya. Proses review wajar memakan waktu 1 hingga 6 bulan.
Lingkup Gado-Gado: Waspadai jurnal dengan judul bombastis yang menerima semua topik (dari teknik sipil hingga kedokteran) dalam satu edisi.
Spam Email Agresif: Jurnal bereputasi tidak akan membanjiri email Anda dengan permohonan naskah ("Greetings Prominent Scholar...").
Jurnal Pembajak (Hijacked Journals): Penipu membuat website palsu yang meniru tampilan jurnal asli bereputasi. Selalu akses jurnal melalui tautan resmi di database indeks (Scopus/WoS), bukan hasil pencarian Google sembarangan.
Setelah mengetahui opsi dan bahayanya, bagaimana menentukan pilihan?
Ukur Kemampuan Diri (Self-Assessment): Jujurlah pada kualitas naskah Anda. Jika datanya solid. Namun, cakupannya lokal, SINTA 3 atau 4 adalah target yang terhormat. Jangan memaksakan ke Scopus/WoS jika data belum mumpuni, atau Anda hanya akan membuang waktu.
Cek Tujuan Publikasi:
Syarat Lulus: Cek pedoman kampus. Seringkali SINTA 2 atau jurnal ber-DOAJ sudah cukup.
Diseminasi Ilmu: Jika ingin dibaca praktisi atau masyarakat luas, pilih jurnal Open Access (DOAJ).
Verifikasi Mandiri: Gunakan portal Think. Check. Submit atau cek Beall's List.
Pastikan kualitas jurnal di indeks manapun, sekalipun itu Scopus.
Mengetahui keberadaan indeks lain seperti WoS, SINTA, DOAJ, hingga basis data spesifik, memberikan Anda keleluasaan strategi.
Bagi seorang akademisi, kemampuan memetakan target jurnal adalah soft skill yang sama pentingnya dengan kemampuan meneliti itu sendiri. Mulailah melihat indeks jurnal sebagai menu yang beragam, dan pilihlah yang paling sesuai dengan gizi riset Anda. Jangan biarkan riset berharga Anda tertolak karena salah alamat, atau terkubur karena mengejar gengsi semata.
Selamat mempublikasikan karya terbaik Anda!
SurveyGua menyediakan layanan pendampingan Publish dengan jaringan akademisi profesional yang luas di seluruh Indonesia.
Hubungi SurveyGua untuk konsultasi lebih lanjut dan biarkan kami membantu Anda mempublikasikan Artikel penelitian Anda dengan Tepat. Insight Your Research.