Jika melihat data beberapa tahun terakhir, potret pendidikan di Indonesia sebenarnya mengalami pergerakan, meski tidak terlalu drastis.
Pada Juni 2022, jumlah penduduk Indonesia mencapai 275,77 juta jiwa.
Dari angka raksasa tersebut, fakta di lapangan menunjukkan bahwa hanya 6,41% penduduk yang berhasil mengenyam pendidikan hingga jenjang perguruan tinggi.
Jika dibedah lebih dalam pada tahun 2022, lulusan S1 hanya berada di angka 4,39%, disusul D3 sebanyak 1,28%, dan D1/D2 sebesar 0,41%. Jenjang yang lebih tinggi lagi jauh lebih sedikit, di mana lulusan S2 hanya 0,31% dan mereka yang bergelar S3 cuma 0,02% dari total populasi.
Memasuki Desember 2024, total penduduk meningkat menjadi 252,48 juta jiwa. Namun, tantangan besar masih terlihat karena hampir seperempat penduduk (24,3%) tercatat tidak atau belum sekolah. Secara umum, pendidikan masyarakat kita masih didominasi oleh tamatan SD (22,27%) dan sekolah menengah (35,96%).
Kabar baiknya, ada kenaikan tipis pada persentase warga yang tamat perguruan tinggi (D1 hingga S3), yaitu menjadi 6,82% pada 2024 dari yang sebelumnya 6,41% di tahun 2022. Meski kenaikannya terlihat kecil, ini menandakan adanya progres dalam minat melanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi.
Partisipasi pendidikan tinggi di Indonesia
Kualitas pendidikan di kampus tentu tidak lepas dari peran pengajarnya.
Pada tahun 2024, jumlah dosen bergelar S3 atau Doktor di Indonesia masih menunjukkan ketimpangan geografis yang cukup nyata. Mayoritas sumber daya akademik unggul ini masih terkumpul di Pulau Jawa.
Jawa Timur memimpin sebagai provinsi dengan jumlah dosen S3 terbanyak, mencapai 11.135 orang. Posisi ini diikuti ketat oleh Jawa Barat dengan 11.129 orang dan DKI Jakarta sebanyak 9.351 orang. Wilayah luar Jawa seperti Sulawesi Selatan (5.344 orang) dan Sumatera Utara (3.402 orang) masuk dalam daftar sepuluh besar, namun angkanya masih terpaut jauh dari provinsi di Jawa.
Faktanya, sekitar 61,53% atau 48.001 dosen S3 di Indonesia terkonsentrasi di Pulau Jawa.
Hal ini menjadi pengingat bahwa pemerataan distribusi dosen ahli sangat mendesak dilakukan agar kualitas pendidikan tinggi tidak hanya berpusat di satu wilayah, melainkan dapat dirasakan secara merata di seluruh pelosok Indonesia.
Dosen Bergelar S3
Bagaimana dengan generasi Z?
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2025, mayoritas GenZ Indonesia (usia 16-30 tahun) adalah lulusan pendidikan menengah.
Sebanyak 43,75% pemuda sudah menamatkan SMA/SMK sederajat, yang merupakan angka tertinggi jika dibandingkan dengan jenjang lainnya.
Di posisi berikutnya, terdapat 33,64% GenZ tamatan SMP dan 12,04% yang sudah lulus perguruan tinggi.
Sisanya, masih ada 8,26% yang hanya tamat SD dan 2,3% yang tidak pernah sekolah atau tidak tamat SD.
Satu hal yang menarik untuk disoroti adalah dominasi perempuan di jenjang pendidikan tinggi. Data menunjukkan 15,17% GenZ perempuan adalah lulusan perguruan tinggi, angka ini jauh lebih tinggi dibandingkan GenZ laki-laki yang hanya sebesar 8,97%. Sebaliknya, kelompok yang tidak pernah sekolah atau tidak tamat SD justru didominasi laki-laki (2,67%) dibandingkan perempuan (1,93%).
Rata-rata lama sekolah GenZ Indonesia pada 2025 juga mengalami kenaikan menjadi 11,21 tahun. Meskipun angka partisipasi sekolah menengah sudah cukup baik, tantangan ke depan adalah bagaimana mendorong lebih banyak GenZ untuk bisa menembus pendidikan tinggi agar mampu bersaing di pasar tenaga kerja yang semakin kompetitif.
Tingkat Pendidikan GenZ
SurveyGua menyediakan layanan data collecting profesional dengan jaringan responden yang luas di seluruh Indonesia. Dapatkan wawasan mendalam melalui riset yang tepat sasaran bersama tim ahli kami.
Hubungi SurveyGua untuk konsultasi lebih lanjut dan biarkan kami membantu Anda menguasai pasar dengan data yang akurat. Insight Your Research.